EPISTEMOLOGI ; TRILOGI NALAR ISLAM

EPISTEMOLOGI ; TRILOGI NALAR ISLAM[1]
Muhammad Ramdhan[2]

big_thumb_657ad297e32ae7261d3770837ea83e2fEpistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani,  episteme, yang berarti pengetahuan. Epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang metafisika, selain itu juga merupakan suatu yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari.

Epistemologi Islam mengambil titik tolak Islam sebagai subyek untuk membicarakan Filsafat Pengetahuan, maka di satu pihak Epistemologi Islam berpusat pada Allah, dalam arti Allah sebagai sumber pengetahuan dan sumber segala kebenaran. Di lain pihak, Fisafat Pengetahuan Islam berpusat pula pada manusia, dalam arti manusia sebagai pelaku pencari pengetahuan (kebenaran). Di sini manusia berfungsi sebagai subyek yang mencari kebenaran. Baca lebih lanjut

Iklan

Kepemimpinan Revolusioner dan Filsafat Plato

Lokasi : Medan Mall

Lokasi : Medan Mall

Kepemimpinan tentunya senantiasa ada didekat kita sebagai makhluk social. Sebuah komunitas bagaimana dan apapun bentuknya, formal atau tidak pasti ada system kepemimpinan didalamnya. Apalagi dalam organisasi kemahasiswaan, kepemimpinan adalah ruh berjalannya organisasi termasuk dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Kepemimpinan itu sendiri dalam bahasa inggris, lead yang berarti tuntun. Artinya, dalam kepemimpinan ada dua pihak yang dipimpin (anggota organisasi) dan yang memimpin (pimpinan organisasi). Sementara, kepemimpinan “Leadership” berarti kemampuan dan kepribadian seseorang dalam mempengaruhi serta membujuk pihak lain agar melakukan tindakan untuk mencapai tujuan bersama. (Baca : Kepemimpinan Sepanjang Zaman)

Bagaimana pula dengan kepemimpinan revolusioner? Banyak yang menganggap istilah revolusioner adalah asing dan itulah yang memotivasi penulis untuk sedikit mengulasnya disini. Tentu kita mengenal presiden Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno sangat sering mengeluarkan istilah ini lewat pidato-pidatonya, bahkan ada jargonnya yang terkenal yakni memusuhi orang-orang yang kontra revolusi. Apakah Revololusioner itu? Baca lebih lanjut

Peta Politik Umat Islam

~Sebuah Tinjauan Sosio-historis. Artikel ini merupakan dokumentasi pemikiran dan pengayaan materi “Teori Masyarakat, Relasi Antara Negara – Agama yang disampaikan oleh Syarifuddin Jurdi pada kegiatan Darul Arqam Paripurna DPD IMM Sulawesi Selatan 2015~

Dalam sebuah buku Ahmad Syafii Maarif mengungkapkan, dengan segala kewaspadaan kita agar persentase jumlah umat Islam di Indoensia tidak menurun, tetapi masalah peningkatan kualitas harus lebih diutamakan. Saat sensus 2010 dilakukan, jumlah warga negara Indonesia yang mengaku beraga Islam adalah 87,18 % dari total populasi. Namun peran politik umat Islam yang mayoritas diatas justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

“Potensi sebagai mayoritas selama ini tidak pernah utuh menjadi satu kesatuan bangunan apa pun. Kekuatan mayoritas ini masih sepenuhnya terserak menjadi serpihan-serpihan yang tak terberdayakan” (SM Edisi No. 01 Tahun ke-100)

Jika membuka sejarah, pemerintahan Soeharto yang menerapkan kebijakan represif terhadap Islam telah menjadi babak penting lahirnya peta politk baru bagi umat muslim, yang awalnya menghadapi sikap represif dan berdampak pada sikap politik dan M8Eun_k2mentalitas kaum Muslim Indonesia telah menjadi catatan sejarah yang menarik sejak setelah Soeharto menunaikan ibadah Haji dan disusul terbentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).Bisa dibilang saat itu adalah masa keemasan proses politik umat Islam yang tentunya mengalami perubahan penting seiring pergantian waktu. Baca lebih lanjut

Teori Perubahan ; Diskusi ke Aksi

demonstran_by_d24yPerubahan merupakan sesuatu yang niscaya dalam kehidupan ini. Setiap manusia pasti mengalami perubahan entah secara evolusi, involusi atau sekaligus revolusi, yang jelas bahwa perubahan akan senatiasa terjadi dalam dinamika kehidupan manusia. Kalau tidak terjadi perubahan itu berarti sedang terjadi sebuah kematian peradaban, yaitu peradaban yang tanpa ruh dan tanpa gerakan, tanpa dinamika bahkan hanya mayat dan benda mati yang ada dalam alam jagat ini. Perubahan sebagai bagian dari tanda adanya kehidupan tentu memiliki dimensi, bahkan bisa jadi perubahan itu pelu dilakukan rekayasa sehingga perubahan yang kita inginkan menjadi terarah dan tidak mengalami tumpang tindih. Perubahan yang tanpa rencana malah akan melahirkan bumerang bagi eksistensi manusia, karena bisa saja perubahan itu melanggar paradigma, nilai, dan yang lebih parah adalah kepentingan manusia itu sendiri. Baca lebih lanjut