Bisakah IMM berpikir ; Menjawab Kegelisahan Kader di Sulawesi Selatan

Pertanyaan diatas kembali dituliskan lama setelah penulis mengikuti Latihan Instruktur di kawasan pantai Suppa beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Instruktur kami memperkenalkan sebuah tema singkat “Bisakah Instruktur IMM berpikir”. Pertanyaan ini sesungguhnya tanpa tanda tanya, sebab jawaban yang diinginkan bukanlah “ya” atau “tidak”. Tapi bagaimana, gugatan ini menyoal tentang karakter, sifat dan perilaku berorganisasi kader IMM.

Berfikir adalah sebuah kehendak kreatif manusia yang juga mesti dilakukan oleh kader IMM. Berfikir dalam hal ini tidak dilakukan sejenak atau periodik, tapi untuk skala besar misalnya untuk kejayaan organisasi kedepan. kehendak kreatif adalah suatu yang bertujuan, yaitu diri selalu bergerak ke satu arah yang lebih mencerahkan (transformatif). Berpikir tidak melepaskan diri dari sejarah, realitas, dan masa depan, dengan berpikir seseorang akan lebih memahami konsep dan prinsip hidupnya kemudian menimbulkan kesadaran yang mendalam untuk bertindak. (Konstemasi Ideologi : Naim).

Malam ini penulis mendapat kesempatan bersama Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Selatan dalam sebuah acara makan malam singkat di salah satu sudut kota Parepare. Kami berbincang santai, dan pertanyaan ini kembali penulis ungkap atas beberapa tema yang menjadi dinamika Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. “Bisakah kader IMM berpikir”. Baca lebih lanjut

Iklan

EPISTEMOLOGI ; TRILOGI NALAR ISLAM

EPISTEMOLOGI ; TRILOGI NALAR ISLAM[1]
Muhammad Ramdhan[2]

big_thumb_657ad297e32ae7261d3770837ea83e2fEpistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani,  episteme, yang berarti pengetahuan. Epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang metafisika, selain itu juga merupakan suatu yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari.

Epistemologi Islam mengambil titik tolak Islam sebagai subyek untuk membicarakan Filsafat Pengetahuan, maka di satu pihak Epistemologi Islam berpusat pada Allah, dalam arti Allah sebagai sumber pengetahuan dan sumber segala kebenaran. Di lain pihak, Fisafat Pengetahuan Islam berpusat pula pada manusia, dalam arti manusia sebagai pelaku pencari pengetahuan (kebenaran). Di sini manusia berfungsi sebagai subyek yang mencari kebenaran. Baca lebih lanjut