DN Aidit : Bubarkan HMI

Desakan pembubaran organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pernah disampaikan Ketua Central Committee Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara Aidit. Dalam sebuah orasi politiknya di Kongres II Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) pada tanggal 28 September 1965 di Istora Senayan, secara tegas Aidit meminta kepada CGMI untuk membubarkan HMI. Jika CGMI tidak bisa membubarkan HMI, Aidit menyarankan agar  kader CGMI laki-laki sebaiknya menggunakan  sarung.

img_25611127714115

Malam itu gemuruh tepuk tangan dan teriakan pembubabaran HMI terasa begitu kuat. Sekitar 25.000 kader CGMI memadati Istora Senayan di Jakarta. Di luar gedung lebih dari 40.000 massa pendukung dan simpatisan PKI terus meneriakkan yel-yel “Bubarkan HMI, Bubarkan HMI”. Teriakan tersebut terus menggema sepanjang Kongres II CGMI berlangsung.

Tiba giliran Aidit memberikan sambutan. Di hadapan puluhan ribu kader CGMI dan PKI lagi, lagi Aidit meneriakan pembubaran HMI. Bagi Aidit pembubaran HMI adalah urusan kecil dan ia tidak perlu turun tangan. Aidit menyerahkan sepenuhnya pembubaran HMI kepada CGMI. “Kalau CGMI tidak bisa membubarkan HMI lebih baik anggota CGMI yang laki-laki menggunakan kain saja,” kata Aidit yang disambut gemuruh tepuk tangan barisan pendukungnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Junior yang Dirindukan

734730_242687339196208_2097088119_nNamanya Andi Zainuddin (yang pake penutup kepala), sarjana pendidikan Mathematika tahun 2015. Kadang dipanggil Anjay, dan aku merindukannya. Setidaknya perasaan itu muncul setelah berkunjung kerumahnya disalah satu pelosok Kabupaten Soppeng malam tadi.
Kurang lebih 5 tahun berkenalan sejak bergabung di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah kota Parepare. Dan selama itu pula si Junior ini sering mendapat kritik dariku, kadang juga celaan. Tapi Junior satu ini terbilang unik, meski menyebalkan tapi bisa diandalkan. Sekalipun mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dia tetap tersenyum dan semakin loyal. Paling serius kalau ada acara ngopi, dan yang menjadi keahliannya adalah mendramatisir sesuatu grin emoticon
Udin sekarang telah menyelesaikan kuliah dan kembali ke kampung halamannya. Aku benar-benar merindukannya, si Udin dan gayanya unik.

“Salamaki’ ndi, semoga masa-masa bermahasiswa dulu menjadi bekal yang cukup untuk melanjutkan pengabdian kepada masyarakat. Terima kasih atas dedikasi dan pertemanannya selama ini. Saya tunggu ngopi di Parepare”. Satu lagi, “Enak sekali tadi itu peco-peco ta, apa resepnya?”

Parepare Blogger Community

12046632_510285212464605_5224233456065045937_nHari ini Sabtu, 24 Oktober 2015 di halaman kantor Telkom Parepare baru saja kami berkumpul untuk bersilaturahim dengan teman-teman Blogger Parepare. Meskipun yang hadir tidak sebanyak yang ditunggu, tapi setidaknya berjalan lancar dan menyenangkan.
Acara dimulai kira-kira pukul 9 malam dengan peserta sebanyak 8 orang. Jumlahnya memang terbilang sedikit, tapi memulai diskusi efektif kami anggap cukup memuaskan. Apalagi diadakan ditempat yang terbuka / both milik PT. Telkom dengan fasilitas hotspot membuat suasana “gathering” menjadi lebih menarik. Peserta juga disuguhi kopi nikmat hingga diskusi berjalan sangat alot hingga tengah malam. Kami berdisusi bukan hanya masalah blogging. Tema kepemudaan, film dan berbagai hobi lainnya. Begitulah gambaran komunitas ini kedepan, berharap bisa mewadahi berbagai profesi dan ketertarikan masing-masing.
Sebagai perkenalan, Komunitas Blogger Parepare di inisiasi dari diskusi dengan seorang kawan yang bernama Amir. Saya berkenalan saat bersama-sama bergiat di UKM jurnalistik. Amir adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam negeri di kota Parepare yang juga membina kelompok jurnalistik mahasiswa Redline. Sebagaimana aktivitas jurnalistik di kampus Universitas Muhammadiyah Parepare, kami menggunakan media blog untuk mengolah dan mempublikasikan berita. Harapannya, dengan menjalin silaturahmi dapat menjaga spirit dan berbagi inspirasi sesama aktivis jurnalistik.

Follow yach : https://www.facebook.com/parepareblogger/