Bisakah IMM berpikir ; Menjawab Kegelisahan Kader di Sulawesi Selatan

Pertanyaan diatas kembali dituliskan lama setelah penulis mengikuti Latihan Instruktur di kawasan pantai Suppa beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Instruktur kami memperkenalkan sebuah tema singkat “Bisakah Instruktur IMM berpikir”. Pertanyaan ini sesungguhnya tanpa tanda tanya, sebab jawaban yang diinginkan bukanlah “ya” atau “tidak”. Tapi bagaimana, gugatan ini menyoal tentang karakter, sifat dan perilaku berorganisasi kader IMM.

Berfikir adalah sebuah kehendak kreatif manusia yang juga mesti dilakukan oleh kader IMM. Berfikir dalam hal ini tidak dilakukan sejenak atau periodik, tapi untuk skala besar misalnya untuk kejayaan organisasi kedepan. kehendak kreatif adalah suatu yang bertujuan, yaitu diri selalu bergerak ke satu arah yang lebih mencerahkan (transformatif). Berpikir tidak melepaskan diri dari sejarah, realitas, dan masa depan, dengan berpikir seseorang akan lebih memahami konsep dan prinsip hidupnya kemudian menimbulkan kesadaran yang mendalam untuk bertindak. (Konstemasi Ideologi : Naim).

Malam ini penulis mendapat kesempatan bersama Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Selatan dalam sebuah acara makan malam singkat di salah satu sudut kota Parepare. Kami berbincang santai, dan pertanyaan ini kembali penulis ungkap atas beberapa tema yang menjadi dinamika Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. “Bisakah kader IMM berpikir”. Baca lebih lanjut

Iklan

Parepare Membangun Dunia

img_20170224_094327Parepare tengah memperingati hari jadi yang ke-57 dengan suasana yang meriah. Pemerintah kota menggelar acara pameran dengan mendatangkan artis ibu kota disambut antusias oleh Masyarakat kota Parepare.

Sejumlah peresmian proyek prestisius juga menjadi agenda peringatan Hari Ulang Tahun Parepare (22/2/2017) sekaligus menjadi bukti bahwa kota kelahiran Habibie ini terus berbenah untuk maju. Dari sekian banyak pembangunan dan penghargaan yang diperoleh pemerintah, tidak sedikit pula opini yang sangsi dan memberikan pandangan negatif.

Terlalu banyak cerita mengenai Kota Parepare dan dinamikanya, namun bagi penulis sangat sedikit yang mau bercerita apa adanya. Komentar-komentar yang bertebaran di media sosial misalnya, tidak bijak jika diambil sebagai rujukan untuk mengukur sejauh mana capaian pembangunan kota Parepare. Baca lebih lanjut

EPISTEMOLOGI ; TRILOGI NALAR ISLAM

EPISTEMOLOGI ; TRILOGI NALAR ISLAM[1]
Muhammad Ramdhan[2]

big_thumb_657ad297e32ae7261d3770837ea83e2fEpistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani,  episteme, yang berarti pengetahuan. Epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang metafisika, selain itu juga merupakan suatu yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari.

Epistemologi Islam mengambil titik tolak Islam sebagai subyek untuk membicarakan Filsafat Pengetahuan, maka di satu pihak Epistemologi Islam berpusat pada Allah, dalam arti Allah sebagai sumber pengetahuan dan sumber segala kebenaran. Di lain pihak, Fisafat Pengetahuan Islam berpusat pula pada manusia, dalam arti manusia sebagai pelaku pencari pengetahuan (kebenaran). Di sini manusia berfungsi sebagai subyek yang mencari kebenaran. Baca lebih lanjut

PTM dan Tantangan Kaderisasi IMM

“Jangan tumbuh anggapan, Muhammadiyah menjadi rutin dan mandeg karena sibuk mengurus amal usaha. Apalah artinya Muhammadiyah tanpa amal usaha dan jangan kira mendirikan, mengelola, dan mengembangkan amal usaha itu gampang. Karenanya, bagaimana merevitalisasi amal usaha sehingga makin berkualitas dan berkeunggulan serta memberi manfaat bagi kemajuan persyarikatan dan berbuah kebaikan untuk kehidupan orang banyak. Syaratnya, hindari konflik dan rebutan amal usaha” ~Dr. H. Haidar Nashir, M.Si~

Tentu judul tulisan diatas tidaklah berlebihan jika melihat pelbagai masalah yang menghampiri Persyarikatan Muhammadiyah yang usianya memasuki abad kedua. Setidaknya hal demikian juga diungkapkan oleh Haidar Nashir lewat majalah Suara Muhammadiyah Edisi 22 November Tahun 2014. Menurutnya, Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang melewati satu abad antara lain karena memiliki inner dynanimcs. Yakni kekuatan dari dalam yang melekat pada dirinya. Tentu dalam hal ini kaderisasi merupakan salah satunya. Namun jika kaderisasi Muhammadiyah menemui sejumlah persoalan, disinilah penting untuk mengatakan “Selamatkan Kaderisasi Muhammadiyah”.

sadDinamika yang disebutkan oleh penulis diatas memang telah menyertai keberlangsungan Persyarikatan Muhammadiyah hingga saat ini. Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan tahun 1912 silam misi utamanya adalah menghimpun anggota untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad lewat prinsip Al-ruju’ ila Al-Qur’an wa Al-Sunnah. Bagi beberapa orang mungkin akan melihat Muhammadiyah sebatas organisasi Islam. Tapi sesungguhnya lebih dari itu, Muhammadiyah adalah gerakan Islam dengan semangat wasathiah (moderat). Muhammadiyah tidak saja berdakwah dalam wilayah aqidah, ibadah dan akhlaq, tapi juga muamalah duniawiah. Muhammadiyah mendirikan lembaga-lembaga sosial, kesehatan dan pendidikan. Salah satu Amal Usaha Muhammadiyah yang perkembangannya terbilang pesat adalah Perguruan Tinggi dengan berbagai tantangannya. Baca lebih lanjut

Kepemimpinan Revolusioner dan Filsafat Plato

Lokasi : Medan Mall

Lokasi : Medan Mall

Kepemimpinan tentunya senantiasa ada didekat kita sebagai makhluk social. Sebuah komunitas bagaimana dan apapun bentuknya, formal atau tidak pasti ada system kepemimpinan didalamnya. Apalagi dalam organisasi kemahasiswaan, kepemimpinan adalah ruh berjalannya organisasi termasuk dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Kepemimpinan itu sendiri dalam bahasa inggris, lead yang berarti tuntun. Artinya, dalam kepemimpinan ada dua pihak yang dipimpin (anggota organisasi) dan yang memimpin (pimpinan organisasi). Sementara, kepemimpinan “Leadership” berarti kemampuan dan kepribadian seseorang dalam mempengaruhi serta membujuk pihak lain agar melakukan tindakan untuk mencapai tujuan bersama. (Baca : Kepemimpinan Sepanjang Zaman)

Bagaimana pula dengan kepemimpinan revolusioner? Banyak yang menganggap istilah revolusioner adalah asing dan itulah yang memotivasi penulis untuk sedikit mengulasnya disini. Tentu kita mengenal presiden Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno sangat sering mengeluarkan istilah ini lewat pidato-pidatonya, bahkan ada jargonnya yang terkenal yakni memusuhi orang-orang yang kontra revolusi. Apakah Revololusioner itu? Baca lebih lanjut

Melacak Relevansi Akal dengan Al Qur’an

Quran2Al Qur’an yang dijadikan pedoman bagi umat Islam hari ini banyak diperhadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar sekularisme, lebih terkhusus lagi diseputaran muslim kampus. Yakni relevansinya dengan konteks keduniawiaan manusia yang bersifat dinamis. Bahkan ada pemikiran yang berkembang menilai konteks yang diceritakan dalam Al Qur’an tidak sesuai lagi dengan kebutuhan manusia kontemporer.

Sikap kritis seperti diatas tidak lahir tanpa alasan, tapi atas refleksi mereka melihat kondisi Islam yang terbelakang khususnya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini juga telah diungkapkan dengan jujur oleh banyak tokoh barat, sebut saja Samuel P.Huntinton yang menguraikan dengan gamblang bagaimana dunia barat memiliki ambisi yang kuat untuk menaklukkan Islam lewat berbagai macam perang. (Baca : Perang Pemikiran).

Respon yang lahir dari Islam sendiri sangat beragam, ada yang mengambil sikap inferior dengan mengabaikan kompleksitas persoalan manusia dan memilih berkhidmat pada persoalan yang transenden. Ada juga kelompok yang mencoba liberatif dengan berupaya mengeluarkan Islam dari ritus dan kejumudan. Hal itu yang menjadi semangat pembaharuan Islam seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Kesadaran untuk memajukan Islam lewat Ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dapat dilihat lewat ungkapan salah seorang tokoh pembaharu Muhammad Abduh, bahwa “Al Islam mahjubun bi I-Muslimin” (Islam tertutup oleh perbuatan yang dilakukan karena ketidakmampuan orang muslim itu sendiri).

Mengkritik IMM ; Anak Manja Muhammadiyah

*Potret IMM di kampus UMPAR

325508_3534983783831_617150731_oTulisan ini berangkat dari sebuah kelompok mahasiswa yang membincang pergerakan mahasiswa Islam yang menurut mereka tidak produktif dalam menjalankan amanah dakwah. Mereka menganggap sebuah kesia-siaan jika sebuah organisasi Islam sibuk melaksanakan kaderisasi namun hasilnya tidak berbanding lurus dengan kualitas yang diharapkan, yang mereka maksud adalah kaderisasi di Universitas Muhammadiyah Parepare. Saat mereka memperdebatkan tema diatas, penulis sebagai pendamping hanya menyimak dan memberikan arahan setelahnya. Terus terang penulis merasa senang menghadapi mahasiswa-mahasiswa yang kritis, mereka yang berani dan punya pemikiran yang merdeka. Hal itu penulis tunjukkan dengan tidak menyela perdebatan meski pembahasannya kurang relevan dengan materi yang semestinya dibahas.

Baca lebih lanjut