EPISTEMOLOGI ; TRILOGI NALAR ISLAM

EPISTEMOLOGI ; TRILOGI NALAR ISLAM[1]
Muhammad Ramdhan[2]

big_thumb_657ad297e32ae7261d3770837ea83e2fEpistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani,  episteme, yang berarti pengetahuan. Epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang metafisika, selain itu juga merupakan suatu yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari.

Epistemologi Islam mengambil titik tolak Islam sebagai subyek untuk membicarakan Filsafat Pengetahuan, maka di satu pihak Epistemologi Islam berpusat pada Allah, dalam arti Allah sebagai sumber pengetahuan dan sumber segala kebenaran. Di lain pihak, Fisafat Pengetahuan Islam berpusat pula pada manusia, dalam arti manusia sebagai pelaku pencari pengetahuan (kebenaran). Di sini manusia berfungsi sebagai subyek yang mencari kebenaran.

  1. Epistemologi Bayani

Kata bayani berasal dari kata bayan yang dengan akar kata ba, ya dan nun, menurut Ibn Manzhur dalam Lisan al-‘Arabi, memiliki lima level semantik, dari tata bahasa yang menyelidiki. Pertama bermakna menghubungkan (al-washl) yaitu pada kata bayn. Pengertian ini kurang dikenal dalam bahasa Arab. Kedua, memisahkan (al-fashl). Ketiga, bermakna tampak dan jelas. Keempat, kefasihan dan kemampuan mengungkapkan sesuatu dengan ringkas dan padat. Kelima, berkaitan dengan pengertian keempat, yaitu kemampuan yang dimiliki oleh manusia untuk berbicara fasih dan memuaskan. Secara ringkas kata bayan memiliki setidaknya, pengertian berikut: memisahkan, keterpisahan, kejelasan dan menjelaskan.

Sedangkan secara terminologis, bayani berarti pola pikir yang bersumber pada nash, ijma’, dan ijtihad. Dalam konteks epistemologi, bayan berarti studi filosofis terhadap struktur pengetahuan yang menempatkan teks (wahyu) sebagai sebuah kebenaran mutlak. Adapun akal hanya menempati tingkat skunder dan bertugas hanya untuk menjelaskan teks yan ada.

Ilmu bayani pada masa kodifikasi telah menghegemoni wacana keilmuan Arab Islam yang di dalamnya karya fiqih yang dihasilkan oleh empat imam mazhab, sehingga al-Jabiry memandang ilmu yang dihasilkan oleh produk bayani tersebut tidak jauh dari ilmu politik.

Epistemologi bayani, secara historis sangat dominan dalam ilmu-ilmu pokok, seperti fiqh, ilmu al-qur’an, kalam dan teori sastra non-filsafat. Al-Jâbirî menjelaskan bahwa sistem bayani dibangun oleh dua prinsip dasar; pertama, prinsip diskontinyuitas atau keterpisahan (al-infisal), dan kedua, prinsip kontingensi atau kemungkinan (al-tajwiz). Prinsip-prinsip tersebut termanifestasi dalam teori substansi individu yang mempertahankan bahwa hubungan substansi sebuah individu (tubuh, tindakan, sensasi dan apapun yang terbentuk di dalamnya) didasarkan atas hubungan dan asosiasi yang kebetulan saja, tapi tidak memengaruhi dan berinteraksi. Teori ini sesungguhnya menafikan teori kausalitas atau ide tentang adanya hukum alam.

            Pendekatan bayani ini sudah lama dipergunakan oleh para fuqaha’, mutakallimun, dan ushuliyyun. Tujuan pendekatan bayani adalah:

  • Memahami atau menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan makna yang dikandung dalam (atau dihendaki) lafazh.
  • Istinbat hukum-hukum dari al-nusus an-diniyah dan al-Qur’an khususnya.

  1. Epistemologi Irfani (Gnostik)

Kata ‘irfan semakna dengan ma’rifah (pengetahuan), terutama sebagai istilah tasawwuf, ‘irfan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui kasyf atau ilham dikalangan  para sufi dianggap lebih tinggi daripada pengetahuan biasa yang diperoleh melalui usaha manusia dengan indera atau akal.

Bagi kalangan irfaniyyun, pengetahuan tentang Tuhan tidak diketahui melalui bukti empiris-rasional, tetapi harus melalui pengalaman langsung (mubasyarah). Menurut konsep irfani, Tuhan dipahami sebagai realitas yang berbeda dengan alam, sedang akal, indera dan segala yang ada di dunia ini merupakan bagian dari alam, sehingga tidak mungkin mengetahui Tuhan dengan sarana-sarana tersebut. Satu-satunya sarana yang dapat digunakan untuk mengetahui hakekat Tuhan adalah jiwa (nafs), sebab ia merupakan bagian dari Tuhan yang terpancar dari alam keabadian dan terpasung ke alan dunia. Ia kan kembali kepada-Nya, jika sudah bersih dan terbebas dari ketergantungan alam dunia.

Jika dalam epistemologi bayani persoalan yang dibahas adalah hubungan ungkapan makna, dalam epistemologi ‘irfani persoalan yang dibahas adalah hubungan zhahir-bathin. Dalam memahami ayat al-Qur’an, bahasan tentang hubungan antara keduanya juga ditemukan dalam terminologi para sufi dengan membedakan antara tanzil dan ta’wil. Meski al-Qur’an sendiri tidak mempertentangkannya. Dalam istilah lain, sering dibedakan antara tafsir dan takwil. Menurut kalangan bayaniyyun, tafsir berkaitan dengan lafzh atau  ungkapan kata. Sedangkan ta’wil, berkaitan dengan makna umum yang terkandung dalam sebuah ungkapan kata. Dalam ungkapan lain, yang pertama merupakan makna sebenarnya (haqiqi) dan yang kedua merupakan makna metapor (majazi). Akan tetapi, kalangan bayaniyyun menetapkan syarat yang ketat dalam melakukan pemindahan makna suatu kata dari pengertian sebanarnya ke majaz, yaitu harus disertai dengan indikasi kuat, baik yang terdapat pada ungkapan kata atau maknanya.

Jika sumber pokok ilmu pengetahuan dalam tradisi bayani adalah ‘teks’ (wahyu), maka sumber pokok ilmu pengetahuan dalam tradisi berpikir  ‘irfani adalah experi-ence (pengalaman). Melalui pendekatan irfani, makna hakekat atau makna terdalam dibalik teks dan konteks dapat diketahui. Jika asumsi dasar atau paradigma bayani lebih melihat teks sebagai sebuah fenomena kebahasaan, paradigma irfani lebih melihat teks sebagai sebuah simbol dan isyarat yang menuntut pembacaan dan penggalian makna terdalam dari simbol-simbol dan isyarat-isyarat tersebut dengan melibatkan kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual.

  1. Epistemologi Burhani (Demonstrative)

Kata burhani berasal dari  kata burhan (argumen atau alasan yang kuat).  Burhan adalah pengetahuan yang diperoleh dari indra, percobaan dan hukum-hukum logika. Dalam konteks epistemologi, jika bayani bersumber dari nash (al-Qur’an dan sunnah), qiyas atau ‘ijma’ sebagai rujukan .utama dan bertujuan untuk menjelaskan keyakinan agama, maka epistemologi burhani bertolak dari kekuatan manusia untuk memperoleh pengetahuan, baik melalui sumber empiris maupun hasil pemikiran rasional. Menurut al Jabiri dalam logika adalah aktivita s intelektual untuk membuktikan kebenaran suatu proposisi dengan cara konklusi atau deduksi. Sedangkan dalam pengertian umum, burhan merupakan semua aktivitas intelektual untuk membuktikan kebenaran suatu proposisi.

Dalam memahami Tuhan, manusia dan alam, epistemologi burhani bertolak dari metode Aristoteles yaitu logika. Akan tetapi, metode burhani Aristoteles adalah uapaya abstraksi fisafat untuk “ilmu demi ilmu”. Sedangkan, dalam kultur Arab Islam, metode ini digunakan untuk menjadi pondasi rasional ajaran Islam. Jadi, akar metode burhani sesungguhnya berasal dari Aristoteles yang digunakan sebagai analisis dan argumen dan dilanjutkan oleh al-Kindi dan al-farabi. Menurut al-Jâbirî, metode rasionalitas Aristoteles di tangan Ibn Sina menjadi al-‘aql al mustaqil yang dipengaruhi oleh gnosis hermetisme sehingga tidak lagi menjadi rasional.

Jika sumber ilmu dari corak epistemologi  bayani  adalah teks, sedang  ‘irfani adalah pengalaman, maka epistemologi  burhani bersumber pada realitas, baik realitas alam, sosial, humanitas maupun keagamaan. Ilmu-ilmu yang muncul dari tradisi burhani sebagi ilmu  al-husuli, yakni ilmu yang dikonsep, disusun dan disistemasasikan lewat premis-premis logika atau  al-mantiq  dan bukannya lewat otoritas teks atau salaf dan bukan lewat otoritas intuisi.

Dari ketiga istilah tersebut bayani, burhani dan irfani, kelompok yang pertama dan terakhir inilah yang mendapat tempat khazanah Islam. Hal ini dibuktikan dengan konflik panjang antara pemikiran kaum tekstualis (bayaniyyun) dengan ahli ma’rifat-mistis (‘irfaniyyun). Yang pertama berpegang teguh pada makna eksoteris wahyu agama yang tidak mengakui takwil kecuali dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh sistem bahasa. Sementara kelompok terakhir mengakui penyingkapan hakekat pengetahuan yang muncul pada mereka atau imam-imam mereka. Untuk mendukung argumennya, tiap-tiap kelompok memanfaatkan warisan kebudayaan pra Islam. Kelompok yang pertama menggunakan logika dan filsafat Aristoteles dan beberapa aspek pemikiran Yunani, sementara kelompok terakhir memanfaatkan tradisi-tradisi pemikiran pra Islam khususnya filsafat agama Hermetisme.

Daftar Bacaan :

  • Abdullah, M. Amin, Islamic Studies dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi, Yogyakarta: Suka Press, 2007.
  • Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Refleksi, vol.8 no.1, Januari 2008.
  • Suyudi, Pendidikan Dalam Al-Qur’an (Telaah Epistemologis dengan Pendekatan Bayani, Burhani dan ‘Irfani), Disertasi (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 2003),
  • Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Belukar, 2005)
  • Naim, Ngainun. Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Teras, 2009.

[1] Disampaikan pada Darul Arqam Madya PC IMM Kota Palopo Tahun 2016
[2] Master of Training Darul Arqam Madya PC IMM Kota Palopo Tahun 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s