Kepemimpinan Revolusioner dan Filsafat Plato

Lokasi : Medan Mall

Lokasi : Medan Mall

Kepemimpinan tentunya senantiasa ada didekat kita sebagai makhluk social. Sebuah komunitas bagaimana dan apapun bentuknya, formal atau tidak pasti ada system kepemimpinan didalamnya. Apalagi dalam organisasi kemahasiswaan, kepemimpinan adalah ruh berjalannya organisasi termasuk dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Kepemimpinan itu sendiri dalam bahasa inggris, lead yang berarti tuntun. Artinya, dalam kepemimpinan ada dua pihak yang dipimpin (anggota organisasi) dan yang memimpin (pimpinan organisasi). Sementara, kepemimpinan “Leadership” berarti kemampuan dan kepribadian seseorang dalam mempengaruhi serta membujuk pihak lain agar melakukan tindakan untuk mencapai tujuan bersama. (Baca : Kepemimpinan Sepanjang Zaman)

Bagaimana pula dengan kepemimpinan revolusioner? Banyak yang menganggap istilah revolusioner adalah asing dan itulah yang memotivasi penulis untuk sedikit mengulasnya disini. Tentu kita mengenal presiden Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno sangat sering mengeluarkan istilah ini lewat pidato-pidatonya, bahkan ada jargonnya yang terkenal yakni memusuhi orang-orang yang kontra revolusi. Apakah Revololusioner itu?

Revolusioner yang berasal dari kata latin revolutio  artinya berputar balik. Namun dalam perkembangannya berarti perubahan politik dalam waktu singkat dan drastis. Tujuannya sama dengan gaya kepemimpinan lainnya, yakni mencapai tujuan organisasi secara bersama-sama namun dilakukan dengan gaya revolusioner. Lewat tulisan ini penulis ingin menunjukkan bagaimanakah kepemimpinan revolusioner itu. Minimal sebagai perbandingan dengan model kepemimpinan yang selama ini kita kenal.

Berangkat dari pemikiran Plato tentang pengetahuan, filsuf Yunani kuno ini pernah merumuskan ide politik tentang masyarakat yang memiliki pengetahuan filosofis yang mendalam, yakni pengetahuan tentang apa yang esensial dan tidak berubah (Ideen), dan pengetahuan yang labil (Meinungen). Dengan pengetahuan seperti diatas, seorang pemimpin dapat mengelola masyarakat dengan sebaik-baiknya. Pemimpin yang revolusioner harus bisa membedakan urasan-urusan apa yang sifatnya mendesak dan mana yang bisa untuk diabaikan. Hal itu penting dalam mencapai tujuan organisasi, perubahan yang diupayakan harus bersifat cepat dan konkrit. Bukan kepemimpinan yang asal melakukan program kerja saja tanpa mempertimbangkan hal yang urgen.

Contoh kepemimpinan revolusioner dapat kita lihat dalam sebuah organisasi misalnya. Seorang pemimpin yang baik mesti bisa melihat kebutuhan organisasi yang mendesak, contohnya menyiapkan fasilitas dan sumberdaya manusia yang memadai (Ideen) sebelum membebani anggotanya dalam aktifitas organisasi yang tidak produktif (Meinungen). Pemimpin yang revolusioner bagi penulis, mesti menggiatkan up grading dan konsolidasi yang bertujuan untuk menyiapkan SDM anggota agar bisa bekerja lebih maksimal. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam hal ini, bagaimana mungkin bisa melakukan aktivitas advokasi terhadap kebijakan pemerintah ketika para anggotanya tidak memiliki kesiapan dan modal inteklektual yang mumpuni.

Kesimpulannya adalah, kepemimpinan revolusioner adalah kepemimpinan yang dibangun atas pengayaan pengetahuan (Baca : Filsafat Plato) sebelum mengambil sikap terhadap realitas organisasi yang dipimpinnya. Terus bagaimana dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ?? Salam Revolusioner !!

Bacaan :- Kepemimpinan Sepanjang Zaman
– Rumahfilsafat.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s