Generasi Qur’ani

Disebuah meja saya dapati buku “10 jurus dahsyat hafal Al Qur’an” karya Umar Al-Faruq, Lc yang memuat kisah inspiratif para santrinya. Seketika langsung teringat dengan keponakanku Mir’ah Tazkiah yg umurnya memasuki usia esempe. Kabarnya dia belajar di salah satu pondok pesantren di Sulawesi Tenggara. Terakhir saya bertemu mungkin 4tahun silam dan sekarang dia mulai muraja’ah. Wah, alhamdulillah smile emoticon

Bagi banyak orang, anak muda yang menghabiskan waktunya dalam mempelajari agama tidak memiliki masa depan yang baik. Jelas pandangan seperti ini keliru. Mereka pikir agama hanya untuk keperluan akhirat dan dunia hanya bisa diraih dengan ilmu pengetahuan dan kerja keras.

Ilustrasi

Ilustrasi

Bagi anak muda lainnya, menjadi santri adalah kesan yang buruk. Kolot dan miskin pergaulan. Memang benar, aktivitas di pesantren diatur dan serba ketat. Banyak mengkaji dan menghafal Al Qur’an. PakaiaΓ±nya pun tidak mengikuti tren fasion sebagaimana anak muda di perkotaan.

Mestinya pribadi kita merasa malu kepada mereka (hafidz/dzah) yang menghafal banyak bahkan seluruh ayat Al Qur’an. Bukankah lebih baik dan khusyuk jika bacaan shalat kita panjang dan sempurna. Tentu kita akan lebih bersemangat beribadah khususnya qiyamulail.

Aku tak sabar ingin bertemu Mir’ah. Nanti saya goda dan uji wawasannya. Dulu waktu kecil aku panggil dia dengan sebutan “si botak” lantaran ibunya / kakakku sering menggunduli agar rambutnya tumbuh lebat. Yah, siapa sangka aku semakin tua dan Mir’ah sekarang sudah remaja dan semoga menjadi muslimah sejati.

Iklan

One thought on “Generasi Qur’ani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s