Yogyakarta Berhati Nyaman

Photo0264

Assalamu alaikum wr wb,

Sebulan yang lalu ketika melakukan perjalanan pulang dari Sumatera Utara, saya menyempatkan untuk berkunjung ke kota wisata Yogyakarta, perjalanan panjang dengan menantang pulau Jawa memberikan banyak pengalaman hidup. Iya, bagiamana tidak hidup di pulau Jawa tidaklah semudah hidup dikampung halaman. Penduduk yang padat dan aktivitas yang sibuk menjadi pemandangan biasa di beberapa kota besar yang sempat saya kunjungi seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya. Tulisan ini akan sedikit memberikan gambaran kota Yogya berdasarkan pengalaman dan beberapa sumber lainnya.

Photo0277Siapapun tentu mengenal Yogyakarta, kota pelajar dan budaya yang berada di tengah pulau Jawa. Yogakarta adalah ibukota DIY yang ternyata satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus kota. Untuk berkunjung ke kota ini kita bisa menempuh penerbangan lewat bandara Adi Sucipto, juga bisa dengan kereta api jika kita berdomisili di daerah Jawa. Tapi ketika kesana, saya bersama teman-teman memilih menggunakan Bus darat lewat jalur pantura yang berangkat dari Terminal Pulo Gadung Jakarta. Berikut menu jalan-jalan yang menurut saya menarik jika anda bermaksud berkunjung ke Yogyakarta ;

– Kauman

Photo0325Kampung kauman adalah daerah yang cukup populer, sering pula disebut sebagai kampung Muhammadiyah, karena dari sinilah Kyai Haji Ahmad Dahlan memulai perjuangannya dalam menyiarkan Islam lewat Muhammadiyah, Mungkin karena terlalu sering menonton film “Sang Pencerah”, berangkat dari kota Medan membuat saya selalu terpikir untuk berkunjung ke tempat ini. Dari kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah tempat kami menginap Jl. KH Ahmad Dahlan hanya ditempuh sekitar 15 menit saja berjalan kaki dengan berbelok kanan di Jl. Nyai Dahlan. Didepan lorong kita bisa melihat gapura yang bersimbol organisasi Muhammadiyah sebagai bukti tempat lahirnya. di kawasan ini kita juga dapat mengunjungi langgar kauman dan Madrasah unggulan Suronatan yang keduanya didirikan langsung oleh Kyai Dahlan. Hadir di Kauman betul-betul menghadirkan suasana tradisional dan mengingatkan kita tentang sejarah Muhammadiyah, Makanya saat ini kampung kauman dijadikan sebagai kampung wisata Religi.

– Jalan Malioboro
Menurut sejarahnya, konon nama Malioboro didapat dari seorang anggota kolonial Inggris yang pernah menduduki Yogyakarta. Malioboro merupakan kawasan belanja nomor satu di DIY dan paling ramai dikunjungi para wisatawan. Karena di sepanjang jalan tersebut kita dapat beli berbagai macam barang-barang dan makanan-minuman tentunya. Mulai dari souvenir-souvenir, barang kerajinan, batik cap dan tulis, kaos dagadu, sandal, topi, tas serta kuliner. Di sepanjang trotoar jalan Malioboro kita akan disuguhi ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang mangkal menjajakan barang dagangannya. Bagi yang pandai menawar, anda akan beruntung mendapatkan barang belanja dengan harga murah.

– Kendaraan Jogja
Selain kita disuguhi wisata belanja yang super lengkap, kita juga dapat menikmati kendaraan khas jogja yaitu becak dan andong. Kita dapat melihat kendaraan ini berlalu-lalang di Malioboro sebelah kanan jalan yang memang masih terdapat jalan aspalan. Untuk sebelah kiri jalan sudah penuh sesak dengan parkiran sepeda motor yang berjejer dari ujung utara hingga selatan. Jumlah sepeda motor yang penuh sesak itu menandakan bahwa kawasan Malioboro memang kawasan terpopuler untuk orang Jogja sendiri ataupun untuk wisatawan. dan untuk kendaraan urban anda bisa keliling kota dengan menggunakan Bus Transjogja yang haltenya tersebar di beberapa sudut kota. Tidak sedikit pula masyarakat dan pelajar yang menggunakan sepeda ontel, pemandangan yang mungkin bagi kita sudah kuno di era globalisasi seperti sekarang. Begitulah kota Jogya, mewah tapi mempertahankan budayanya.

– Angkringan & Lesehan
Tak lengkap rasanya berkunjung ke Jogja tapi tidak bersantai di angkringan, Ratusan gerobak yang berjejer disepanjang jalan menjajakan makanan murah meriah tapi dengan rasanya yang ekslusif, menjadi khas kota budaya ini. Makan di angkringan seolah kita berada dirumah sendiri, tempat yang sederhana tanpa pembatas antar pedagang ditambah cahaya dari pelita kecil, menghadirkan suasana yang begitu akrab. sepanjang jalan malioboro kita bisa menjumpai kumpulan wisatawan maupun pelajar yang duduk bersantai diatas bangku kayu angkringan atau memilih untuk duduk melantai di trotoar jalan, sambil menikmati nasi gudeg khas Yogyakarta yang diselingi dengan bercanda. Sangat ramai tapi santai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s