Kedudukan Ilmu dalam Islam

*Disampaikan pada pengajian HIMA Matematika UMPAR di Mushallah Nurul Ilmi Gedung Pasca Sarjana

Quran2Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “ – (HR. Muslim)

Hadits diatas sering kita kenal dengan istilah “Hadits Jibril” yang isinya tentang penjelasan Iman, Islam serta ihsan. Ketika membaca dan menghati hadits tersebut, setidaknya ada banyak hal yang menjadi catatan penting sebagai bahan renungan kita bersama. Pertama, menjelaskan tentang perkara pokok dalam beragama kita yakni, rukun iman, rukun islam dan kepribadian ihsan. Ketiganya adalah perkara yang sangat mendasar untuk kita ketahui sebagai muslim. Kedua, disini bisa kita lihat adanya interaksi antara 2 makhluk Allah yang mulia, yakni malaikat Jibril sebagai kepercayaan Allah di langit (Aminussama’) dan Muhammad sebagai kepercayaan Allah dibumi (Aminul’ard) menunjukkan bahwa hadits ini merekam moment yang istimewa risalah agama. Yang ketiga, kita dapat memetik nilai etika dalam sebuah majelis ilmu. Dimana seorang berperan sebagai penanya dan ada pula yang menjawab. Serta ada juga yang mendengarkan sebuah percakapan layaknya guru dan murid.

 Berbicara tentang ilmu dan pengetahuan, kita ketahui bahwa pengetahuan dalam bahasa Inggris disebut knowledge sementara imu disebut sience. Pengetahuan sebagai hal-hal yang diketahui manusia baik karena fitrah ataukah proses belajar, dirangkum dan menjadi ilmu.

Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)”

“Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact (And English reader’s dictionary)

Sementara seorang Dr. Mahadi Gulsyani pernah menyebutkan bahwa, Islam adalah agama ilmu. Karena Islamlah agama yang sangat mengapresiasi dan memposisikan ilmu pada tempat yang mulia. Hal ini dapat kita lihat dalam banyak ayat Al Qur’an yang menyebut kata ilmu sebanyak 180 kali. Belum lagi istilah seperti akal dan berpikir serta lainnya masih banyak berhubungan dengan ilmu pengetahuan.

“…Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” – Q.s Mujadilah :11. Artinya, bagi kita yang beriman kepada Allah tentunya akan lebih baik jika berimannya kita desertai dengan ilmu pengetahuan, dengan ayat ini saja mestinya memotivasi kita untuk menuntut ilmu.

Menuntut ilmu dalam Islam, adalah aktivitas yang mulai dan wajib. Ketika kita ingin memahami aqidah yang murni, ibadah yang benar dan memiliki akhlaq yang mulia tentunya harus memiliki ilmu tentangnya. Bagaimana mungkin kita mengenal Allah tanpa ilmu ? bagaimana mungkin kita bisa beribadah sesuai yang dijalankan rasulullah tanpa ilmu? Bagaimana mungkin akhlaq kita bisa terjaga tanpa bantua ilmu khususnya tentang Islam. “…Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah Ulama”. Artinya, yang benar-benar bisa menjalankan perintah Allah, beragama dengan sebaik-baiknya adalah orang yang alim, memiliki ilmu pengetahuan, intinya ilmu sebagai kunci keberagamaan kita.

Itulah sebabnya, kita sangat sering mendengarkan nasehat bijak “carilah ilmu walau sampai ke negeri cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. Tapi bukan berarti kita harus menuntut segala ilmu, ulama berpendapat yang wajib untuk dipelajari adalah ilmu tentang perbuatan (akhlaq). Dalam hal ini, Islam adalah agama yang mengajarkan tentang akhlaq.

Kemudian ditambahkan oleh Cak Nur, seorang cendekiawan muslim bahwa antara iman, ilmu dan amal merupakan segitiga yang tidak bisa terpisahkan dalam Islam. Hal itu berarti, berimannya kita kepada Allah dan Rasulnya karena berilmu pengetahuan, dan pada akhirnya segalanya akan berbuah amal. Namun perlu kita ketahui bahwa, tidaklah wajib menuntut semua ilmu berdasarkan pembagian ilmu oleh Imam Al Gazaly dalam kitabnya ihya’ umuluddin. Dibagi menjadi dua yaitu, ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah. Yang dimaksud fardhu kifayah adalah ilmu yang setiap individu wajib mengetahuinya, khususnya ilmu agama. Shalat, puasa dan berzakat itu hanya bisa diamalkan ketika mengetahui caranya. Sehingga wajib bagi kita untuk menuntut ilmu tersebut. Sementara ilmu fardhu kifayah, merupakan cabang ilmu yang dikembangkan manusia untuk kepentingan maslahat keduniawiaan. Misalnya ilmu kedokteran, pertania, keteknikan dan lain-lain. Hukumnya tidak menjadi wajib ketika sudah ditunaikan oleh sebagian orang. Bedanya dengan ilmu fardhu ‘ain harus dipelajari oleh setiap orang.

Kita cukupkan dulu, intinya adalah dengan melihat penting dan tingginya kedudukan ilmu pengetahuan, maka selanjutnya adalah mari kita serukan “Menuntut ilmu Yes, Apatis No”. terimah kasih kepada HIMA Prodi Matematika Universitas Muhammadiyah parepare.

One thought on “Kedudukan Ilmu dalam Islam

  1. Ping-balik: EPISTEMOLOGI IQRO | Filsafat Berfikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s