Kerangka Berfikir “Paradigm School of Makassar”

IMG_20140413_031106PENGETAHUAN PERTAMA MANUSIA ADALAH KETIDAKTAHUAN, PENGETAHUAN YANG KEDUA ADALAH TAHU. PENGETAHUAN ADALAH HASIL DARI PROSES MENGETAHUI, GERAK AKAL DARI TIDAK TAHU MENJADI TAHU

Assalamu ‘alaikum wr wb. Alhamdulillah sore ini penulis baru saja mengikuti rangkaian diskusi yang digelar oleh teman-teman dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah kota Makassar. Acara tersebut masih rangkaian “Sekolah Paradigma” yang mengangkat tema “Kerangkar Berfikir Ilmiah”. Acara tersebut digelar di Taman “Multimedia” depan kampus Universitas Muhammadiyah Makassar jalan Sultan Alauddin kota Makassar. Untuk lebih jelasnya, penulis akan menyampaikan beberapa poin penting yang menjadi materi kajian sebagai berikut.

Berangkat dari pengertian, Kerangka adalah suatu yang menyusun atau menopang yang lain, sehingga sesuatu yang lain dapat berdiri. Dan berpikir merupakan gerak akal dari satu titik ke titik yang lain. Sebagaimana sebuah bangun, harus terdiri dari beberapa sisi yang membentuk dan saling menopang agar bisa berdiri utuh. Sebuah kubus misalanya, mesti memiliki beberapa garis yang saling dihubungkan agar membentuk sisi. Dan kemudia sisi-sisi yang ada digabungkan sehingga terbentuk sebuah kubus yang utuh.

Bagaimana dengan berpikir ? apakah yang dipikirkan dan apa pula yang bisa dipikirkan ? Ide, gagasan dan apakah itu pengetahuan ? adalah sedikit pertanyaan yang erat kaitannya dengan apa yang menjadi tema kajian kita. Secara singkat, berfikir adalah aktivitas yang niscaya dilakukan oleh setiap orang. Kerangka berfikir bermaksud menjelaskan bagaimanakah mestinya aktivitas berfikir itu berjalan dalam konteks kefilsafatan yang sistematis dan metodologis (frame of though). Karena kita harus tahu, meski semua orang bisa berfikir namun hanya sedikit yang mengerti tentang filsafat. Untuk materi pengantar filsafat silahkan klik disini !

‘Pengetahuan
Pengetahuan sejati merupakan bawaan dalam diri kita ~ Plato

Teori Plato menyebutkan bahwa, sesungguhnya manusia memiliki dua macam pengetahuan. Pertama adalah ide-ide yang telah dimiliki sejak adanya manusia yang sifatnya abstrak. Dan yang kedua adalah pengetahuan yang sifatnya real. Bagi seorang Plato, kita tidak perlu “belajar” tapi yang mesti kita lakukan untuk mendapatkan pengetahuan yakni “mengingat”, sehingga kita mengenal teori pengingatan kembali. Berbeda dengan muridnya Aristoteles, meski juga membagi pengetahuan menjadi dua yakni pengetahuan indrawi dan akali. Namun bagi Aristoteles, pengetahuan sejati hanyalah yang real. Sementara dunia ide bersifat semu terlepas ia bagian dari pengalaman yang dimiliki manusia. Berbeda dengan gurunya, Aristoteles lebih mengakui adanya “common sense” dibandingkan dengan konsep “idealisnya” Plato. Aristoteles juga dikenal sebagai filsuf realis yang memperkenalkan aktifitas rasional / logika dalam memperoleh pengetahuan.

‘Logika
Logika diturunkan dari kata sifat logike, bahasa Yunani, yang berhubungan dengan kata logos, yang artinya pikiran atau perkatan sebagai pernyataan dari pikiran. kata Arab yang diambil dari kata mantiq yang berarti berkata atau berucap. Sementara dalam Filsafat, logika adalah cabang yang membahas tentang kaidah atau aturan berfikir benar. Logika sebagai cabang filsafat sangat penting untuk kita kaji agar menjadi menyelami samudra filsafat yang luas.

Bagi penulis, membahas Logika adalah sebuah keharusan sebelum memulai aktifitas kefilsafatan / berfikir. Hal itu sesuai dengan maksud logika itu sendiri, yakni menghindari kesesatan “Fallacy” dalam berfikir. Dalam hal ini, penulis menunjukkan prinsip / hukum / aturan yang telah dimulai sejak periodesasi Aristoteles yang dikenal sebagai tokoh logika formal / syllogism. Setidaknya ada empat prinsip yang mesti kita ketahui sebagai aturan berfikir yang benar.

Prinsip – prinsip berfikir benar :

  1. Prinsip Identitas
    Sesuatu itu hanya sama dengan dirinya. Dirimu hanya sama dengan dirimu sendiri. tuhan tetap akan menjadi tuhan sebagai khaliq. Manusia tetap menjadi manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan. Tak mungkin manusia dipersamakan dengan tuhan, dan manusia yang mengatakan dirinya sebagai tuhan adalah sesat / fallacy. Prinsip ini yang menegaskan tentang wujud sesuatu.
  1. Prinsip Non – Kontradiksi
    Sesuatu itu tidak akan pernah sama dengan yang kebalikannya. DIrimu tidak akan pernah sama dengan diri orang lain. Manusia sebagai makhluk tidak akan pernah sama dengan tuhan sebagai khaliq / pencipta. Prinsip inilah yang memastikan segala sesuatu memiliki eksistensinya masing-masing.
  1. Prinsip Kausalitas
    Sesuatu itu ada dan berlaku karena adanya sebab akibat. Prinsip kausalitas mendalilkan bahwa setiap efek- semua event, selalu harus memiliki penyebab.
  1. Prinsip Keselarasan

Syllogism / logika Aristoteles :

  1. Setiap manusia pasti mati (Premis minor)
  2. Reski adalah manusia (Premis mayor)
  3. Reski pasti mati (Anteseden)

PERHATIKAN SEKALI LAGI !!
1. Dia gadis yang cantik
2. Tidak benar dia gadis yang cantik

KETERANGAN : Jika benar dia cantik, maka ucapan “tidak benar dia gadis yang cantik”, tidak mungkin sama benarnya. Tetapi jika ungkapan 1 sesat, maka jelaslah bahwa ungkapan 2 tentu benar. Sebaliknya jika ungkapan 2 benar, maka ungkapan 1 tentu sesat, dan jika ungkapan 2 sesat, maka ungkapan 1 tentu benar.

 Sederhanaya adalah , filsafat bukanlah tujuan, bukan menghafal teori dan menamatkan buku-buku tebal. Mereka yang menempuh jalan “rumit” ini akan mendapatkan banyak kejutan tentang semesta. Berdecak kagum pada setiap inci kehidupan, perang dan juga kasih sayang. Filsafat adalah jalan yang panjang tentang hidup itu sendiri..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s