Selamatkan Muhammadiyah : Agenda Abad Ke-2

Alkisah di dalam sebuah hutan, hidup seekor monyet yang bersahabat dengan seekor ikan. keduanya saling setia dengan ikrar persahabatan yang begitu tulus, “Aku akan menjagamu dengan sepenuh hati” berkata sang monyet kepada sahabatnya. “Iya sahabatku, jika kamu membutuhkan pertolonganku, datanglah kapan saja” balas si ikan dengan bersungguh-sungguh.
Suatu hari hujan turun sangat lebat, sungai yang menjadi tempat tinggal ikan tiba-tiba meluap dan membuat sang monyet sangat khawatir dengan keselamatan sahabatnya si ikan, tanpa berpikir panjang diambilnya si ikan dari sungai kemudian membawanya ke atas pohon. “Tenanglah sahabatku ikan, kau selamat dan aman dalam pelukanku” seru sang monyet kepada ikan. Beberapa saat kemudian, si ikan mati karena dikeluarkan dari air….

Sebulan terakhir, tidak sedikit informasi mengenai permasalahan amal usaha Muhammadiyah menghampiri kotak masuk saya. Kampus atau perguruan tinggi Muhammadiyah dikota Parepare ternyata mendapat sorotan dari banyak oknum tentang kredibilitas kepemimpinan dan penyelenggaraan birokrasi. Kampus yang diharap menjadi alat perjuangan, dinilai memberatkan bahkan menindas mahasiswa. Bukan hanya itu, tuduhan penindasan juga dialamatkan kepada organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang berafiliasi dengan pimpinan kampus, sehingga membuat gerah orang-orang yang merasa memiliki semangat KH. Ahmad Dahlan (Baca : Mahasiswa UMPAR).

Protes tersebut berlanjut bukan tanpa alasan, sebagian mahasiswa begitu percaya diri dalam menghayati dan meneriakkan salah satu pesan founding father Muhammadiyah yaitu “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. sehingga melahirkan prinsip “Pungutan dalam Amal usaha Muhammadiyah adalah bentuk penindasan, sementara penindasan harus dilawan” yang akhirnya bertransformasi menjadi gerakan konfrontatif dan konflik. (Baca : Demokrasi Kampus)

Bagi saya Kyai Haji Ahmad Dahlan tentu tidak pernah berpikir, Muhammadiyah akan menjadi Organisasi raksasa, tersebar disetiap pelosok desa dan memiliki 157 Perguruan tinggi seantero Indonesia. Sang Kyai juga tidak menyangka, mengurusi amal usaha ternyata mendapat tantangan yang luar biasa. Penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas tentu harus terpenuhi dan didukung dengan harga operasional yang sepadan. Tapi saya cukup yakin beliau sadar bahwa, mencapai masyarakat Islam yang paripurna adalah pekerjaan panjang hingga 102 Tahun “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” masih menjadi matan yang abstrak.

Tulisan ini adalah kegelisahan saya melihat betapa kita terlalu mengidolakan seorang Kyai Dahlan, beliau tentu berhak mendapat apresiasi sebagai peletak sejarah Muhammadiyah, tapi bukan untuk dikultuskan. kita berhimpun dalam organisasi yang bernama Muhammadiyah, Bukan Dahlaniyah. Muhammadiyah sejak didirikan seabad lalu telah melalui pendewasaan lewat beberapa kali forum muktamar (bermusyawarah). Penyelenggaraan organisasi dan amal usaha Muhammadiyah tentunya berdasar dengan kaidah organisasi, Ideologi dan Ijtihad Pimpinan sebagai landasan Yuridis. Singkatnya, menjaga spirit pencerahan Muhammadiyah tidaklah cukup dengan manghafal teks “Hidup-hidupilah Muhammadiyah”. yang lebih penting, membangun Muhammadiyah mesti dengan langkah yang progresif/konrit/terukur/jelas/ikhlas. Muhammadiyah di abad ke-2 tidak boleh banyak bicara jika ingin konsisten dalam amar ma’aruf, begitupun angkatan Muda termasuk Mahasiswa Muhammadiyah, mesti bersikap solutif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi, bukan justru mengaduk dan menggelindingkan bola salju.

Untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, mesti senantiasa melakukan internalisasi dan bermuhasabah terhadap asumsi negatif, bagaimanapun perannya sebagai organisasi otonom meniscayakan keberadaannya dalam kampus, begitupun Pimpinan Universitas wajib membuka ruang seluas-luasnya untuk pengembangan Imm dalam membangun budaya intelektual dan pembinaan mahasiswa secara berkelanjutan. Imm tidak boleh merasa inverior, karena sejatinya kritikan merupakan vitamin yang membangun. Semoga kita yang merasa prihatin dengan perserikatan, mampu mencintai dan membenci dengan proporsional, tidak gegabah mengambil sikap seperti yang dilakukan sang monyet kepada sahabatnya…
Tunduk menanduk, bangkit melawan, karena mundur adalah penghianatan, Jayalah IMM jaya !

Kamis, 21 Juni 2012
Pantai Asuhan “Sejati” Muhammadiyah Rappang, Sidrap
Immawan Muhammad Ramdhan

One thought on “Selamatkan Muhammadiyah : Agenda Abad Ke-2

  1. Untuk menyelamatkan Muhammadiyah diperlukan aktualisasi dan penguatan kaderisasi sesuai dengan ideologi persyarikatan yg tidak terkontaminasi dengan ideologi sekularisme, liberalisme, sosialisme, apalagi zionisme dan aliran sesat lainnya baik yg melabeli diri dengan agama maupun yg tidak berlabel agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s