Sepakbola dan Gawzul Fiqr

bigstock_the_glass_globe_with_flags_of__20952433

Teriakan histeris bergemuruh dari tempat penonton dan suporter menyambut sebuah tendangan yang menghasilkan gol oleh salah satu pemain tim Futsal, Berada ditengah-tengah pertandingan olahraga ini cukup menyadarkanku akan sebuah magnet kuat yang merebut perhatian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare. Betapa tidak tiap harinya hampir seratusan mahasiswa dengan setia berboncengan tiga ataupun berjalan kaki demi mensukseskan event ini. Tentu tak salah kalau aku katakan “FUTSAL” memiliki massa yang militan, Luar Biasa !!

Beberapa saat yang lalu, permainan Futsal hanya saya saksikan disalah satu media Olahraga Internasional. Tapi hari ini telah menjadi komsumsi sehari-hari anak muda Indonesia, Mahasiswa UMPAR malah. Begitulah Globalisasi, kita dipersatukan dalam sebuah peradaban dunia yang melintasi batasan geografis, Perubahan yang lebih maju dan Modernis bukan hanya dalam wilayah pertanian dan industri, tapi ternyata menyentuh olahraga juga. Selamat datang di abad 21 !!

Globalisasi yang sangat potensial menciptakan proses akulturasi, sebuah proses pergumulan nilai dan budaya antara budaya barat dan timur (Islam), yang oleh sebagian tokoh mengistilahkan Gowzul Al Fikr (perang pemikiran) atau dalam bahasanya Samuel Huntington clash Of Civilization (benturan peradaban). Efek global terhadap masyarakat kian terasa tak mengenal ruang dan waktu. Melalui berbagai media cetak (majalah, dll) dan elektronik (TV, Internet, dan lain-lain), produk-produk global dipasarkan, dipublikasikan, dimediakan, memberikan suguhan yang sarat dengan pesan dan doktrinasi ideology barat.

Sedih rasanya melihat mahasiswa yang katanya mengambil garis tegas sebagai kaum intelektual, Agent of Change, Social of Control, Power of Balance yang diharapkan melakukan perjuangan untuk pembebasan dan pendampingan kepada rakyat, Justru memberikan porsi perhatian lebih terhadap sesuatu yang sifatnya Fun. Tampak begitu mudah memobilisir suporter sepakbola ataukah mengadakan sebuah pesta yang semuanya orientasinya kesenangan. Tapi giliran diajak mendiskusikan hal yang konstruktif, Rapat ataukah Kajian, Sungguh merupakan hal yang sangat sulit untuk dimaksimalkan. Jangan harap Mahasiswa ada yang mau mengunyah tesis Marx, menyimak Perkembangan Ahmadiyah ataukah Rezim Dzalim, Aku begitu sangsi kita berhak menjadi pemimpin masa depan. Kebanyakan kita cocok menjadi biduan dan Pelawak !!

Dari seorang pejabat Komnas HAM Republik Indonesia, Dr. Saharuddin Daming, dalam kunjuangannya dikampus Universitas Muhammadiyah Parepare kita mengenal istilah “Westernisasi” atau Pembaratan yang memiliki tiga pendekatan yaitu Fun, Food, Fasion (Kesenangan dunia gemerlap, makanan, dan gaya hidup). Tampaknya perlu untuk ditambahkan satu poin lagi yaitu “Fun, Food, Fasion, dan FUTSAL”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s