Gerakan 30 September

Parepare, 30 September 2012 – Hari ini ada yang berbeda di sekretariat Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, di Markas aktivis IMM Parepare itu tampak bendera yang sedikit usang dengan gagahnya berkibar setengah tiang dibawah menjulangnya sebuah pohon kelapa. Aku dan kawanku menikmati secerek kopi sambil sesekali memandangi bendera yang tak pernah diam tertiup angin pagi, seolah mengajak kami berdiskusi tentang suatu hal.

Hari ini adalah moment bersejarah bagi bangsa Indonesia. 30 September, kita kenal sebagai Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau G30S/PKI. Masa lalu yang seolah menghantui perjalanan bangsa kita, tentu kita masih ingat film horor yang mengisahkan penculikan, pembunuhan dan tentang rezim Presiden Soekarno serta PKI silam. Singkatnya, mendengar Komunisme akan mengantarkan kita ke pikiran bahwa mereka hanyalah segerombolan orang jahat yang tidak percaya adanya Tuhan. Begitulah paradigma masyarakat orde baru, memusuhi dan tidak lagi menyisahkan tempat bagi mereka yang mengaku komunis.

“PKI adalah gagasan yang revolusioner, bukan sekedar kumpulan petani dan orang desa, mereka adalah anak kandung dari sosialisme, mereka adalah pejuang kemerdekaan, mereka adalah nenek dan kakek kita sendiri, bagian dari bangsa Indonesia” menurutku.

“Tapi mengapa mereka mesti memusuhi kaum santri, benarkah mereka melarang dakwah, bukankah Agama tidak akan dipaksakan untuk mereka, kalau berjuang, kenapa tidak bersama-sama saja” pikirku.Kusutnya sejarah membuatku terdiam dan memilih melanjutkan minum kopi.

G30S/PKI adalah bagian sejarah dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, IMM turut membumi hanguskan PKI waktu itu. Tak segan-segan IMM memutuskan untuk memakai warna kebesaran mereka, Merah sebagai simbol perlawanan. “Komunisme adalah musuh, tentara adalah kawan, Ganyang PKI, PKI tai!”. Mudah saja, suruh pak tentara menangkap dan adili mereka.

Apa daya palu dan celurit tak kuat melawan senjata, akhirnya sang Jendral berkuasa untuk waktu yang cukup lama, 30 Tahun. Meski Reformasi melarang pemutaran film horor yang sarat dengan propaganda anti PKI, tapi bangsa ini sudah cukup terluka akan sejarahnya dan masih terus berduka. “Kalau sudah mati, dimanakah nisanmu komunisme? Tanyaku sedih.

Bagaimana dengan agama? Pasca G30 September, hari ini pun Muhammadiyah dan NU masih setia mengawal perjalanan bangsa Indonesia. Kekalahan bagi PKI memberikan tempat yang cukup bagi “keTuhanan yang maha esa”. Dan tanggung jawab mereka “Muhammadiyah dan Nu” untuk menyelesaikan persoalan baru yaitu dominasi Kapitalisme. Ataukah justru mereka yang menjadi hamba kapitalisme? Entahlah, tapi yang aku lihat beberapa kaum kanan tega menjual agama dan merangkak memasuki istana. Naudzubillah.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s