Birokrasi, Gerakan Abad Ke-2 Muhammadiyah

Aku melihat antrian panjang disudut kampus ini, sebuah pemandangan rutin dipenghujung semester setiap tahunnya. Mereka (mahasiswa) berbaris berkelompok menunggu pengambilan surat keterangan untuk mengikuti Final semester sebagai salah satu rangkaian akademik. Mereka menunggu dengan perasaan gerah dan bosan, bagaimana tidak pelayanan kampus belum mampu menunjukkan kredibilitasnya menyesuaikan diri dengan peningkatan statistik mahasiswa secara kuantitas.

Untuk mendapat pelayanan dari biro yang bersangkutan, mereka mesti memperlihatkan kartu rencana studi (KRS), bukti pembayaran terakhir (SPP/DPK) dan Dokumen atau kwitansi pembayaran lainnya sebagai bukti kemahasiswaan. Ini merupakan upaya menciptakan atmosfir manajemen administrasi yang sistematis yang sebenarnya bertujuan untuk memudahkan semua pihak. Namun realitas banyaknya mahasiswa yang mengalami kecelakaan dalam menginventarisir dokument tersebut harus dipusingkan untuk mencari salinan yang cukup sulit dan kadang dipersulit.

Mengeluh bahkan ada yang menangis khawatir tidak bisa mengikuti Final esok hari. Staf Fakultas yang dimintai salinan blanko pembayaran tak bisa diajak kompromi dan menyalahkan mahasiswa justru enggan melayani karena sibuknya. Bank yang menjadi tempat pembayaran membuat mereka beringas karena bertempat dipusat kota sementara pelayanan tinggal beberapa jam sebelum tutup. Tak jarang juga sekelompok mahasiswa tertunduk malas menunggu pimpinan birokrat yang tak kunjung datang untuk dimintai toleransinya karena belum mampu melunasi iuran kuliah seperti Spp, dana pembangunan, Dana pembinaan kemahasiswaan, Laboratorium, Infak yang tidak jelas orientasinya amalnya, dan sebagainya. Setidaknya, Kewajiban yang dibebankan kepada mahasiswa seperti itu dimaksudkan untuk mendukung percepatan pembangunan kampus dalam mencapai status Akreditasi mungkin, agar mampu bersaing dengan Perguruan Tinggi lain dalam Negeri maupun luar negeri atau aku lebih suka menyebutnya sebagai persaingan (Baca: Globalisasi).

Sangat miris memang melihat realitas tersebut yang dialami hampir setiap mahasiswa dikampus ini. Tapi profesionalisme bukanlah alasan yang tepat untuk membuat mereka berterima akan keadaan yang sulit ini. Karena kampus kita terlalu berani mengklaim diri sebagai Kampus β€œamal usaha” yang mencita-citakan kepribadian islami Muhammadiyah. Sebuah kontradiksi jika kita melirik kesejarahan dan progresifitas KH. Ahmad Dahlan. Aku bingung melihat Muhammadiyah. (Baca : Landasan Gerak Muhammadiyah).

Fenomena ini lebih merepresentatifkan kecenderungan terhadap keuntungan dan profesionalisme yang berjubah system ideal dan melupakan nilai-nilai kemanusian. Membiarkan mahasiswa memusingkan masalah sendiri adalah bentuk penghianatan terhadap misi sosial Organisasi Muhammadiyah yang menaungi Kampus ini. (Baca : kapitalisme; marx).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s