Sepekan di Bumi Cenderawasih

76693_1358648304879_3771726_nSuara keras sebuah Pesawat Militer menyambut kami di LANUD HASANUDDIN Makassar. Siang itu kami akan terbang dengan Hercules untuk mengikuti kegiatan TEMU NASIONAL BEM SE-NUSANTARA yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Cenderawasih (BEM UNCEN) kota Jayapura, Papua. Tak Seorang pun yang bisa berkomentar banyak tentang landasan dan orientasi pelaksanaan kegiatan TEMU BEM SE-NUSANTARA. Kami diminta segera bersiap dan berkumpul disalah satu hotel yang cukup besar di kota Makassar. Bagi BEM UMPAR, silaturahmi dan bertemu dengan pimpinan BEM se-Indonesia tentunya sangatlah dibutuhkan dalam membangun dan berbagi konsep gerakan mahasiswa yang lebih aktif dan produktif. Tapi sambutan mewah tersebut hanya kami respon sebagai sebuah usaha panitia untuk menyenangkan para tamu tanpa pernah berpikir itu adalah sebuah hal yang sangat jarang ditemukan dalam pengelolaan kegiatan Kemahasiswaan.

Pukul 16.30 WIT rumah-rumah mulai tampak dari jendela pesawat, tata bangunan kota Papua cukup tersusun rapi. Daerah itu terdiri hampir 75% hutan lebat dan pegunungan, membangun rumahpun masih banyak dipuncak gunung. Itulah yang mungkin membuat Bumi Papua tampak seperti lautan cahaya dimalam hari sehingga disebut mirip HONGKONG karena keindahannya. Seturunnya di LANUD JAYAPURA, terbentang sebuah spanduk “SELAMAT DATANG PESERTA TEMU BEM SE-NUSANTARA” dari sekelompok pemuda beralmamamater kuning. Kami yakin meraka adalah Mahasiswa UNCEN dengan warna kulit yang khas. Tampak juga sebuah tarian khas Papua menyambut kedatangan Peserta yang bersorak-sorak dengan nyanyian bahasa lokal.

Antrian panjang mengawali hari Pembukaan Kegiatan BEMNUS, Pemeriksaan ekstra ketat dilakukan oleh Pihak keamanan yaitu Polisi, TNI, dan Pasukan Pengamanan Presiden (PASPAMPRES). Setidaknya setiap Panitia, Mahasiswa dan undangan yang ingin memasuki Gedung Auditorium UNCEN harus melewati kurang lebih enam pos yang menyita setiap benda yang diaggap berbahaya milik peserta seperti Rokok, korek api, gunting, gelang, kalung, jam tangan, cermin dan lain-lain. Memang terlihat kekhawatiran yang cukup berlebih mengingat daerah tersebut masih sering terjadi konflik dan penembakan serta Keberadaan Gerakan Separatis Papua.

foto_BEM nusantara Papua_muchlis (3)Tampak dalam layar besar Susilo Bambang Yudoyono memasuki ruangan disertai instruksi untuk berdiri oleh master of ceremony sebagai penghormatan kepada sang Presiden, kecuali beberapa mahasiswa yang tetap duduk tenang dan tetap memandang kedepan. Waktu itu saya paham akan sebuah simbol resistensi yang digambarkan wajah mereka. Dan secara kebetulan Telepon seluler tidak mendapat sinyal ataukah itu memang ulah Intelejen yang sengaja memutus komunikasi keluar dan kedalam ruangan yang dihadiri oleh orang nomor satu negara. Pembina Partai Demokrat tersebut melintas kurang satu meter dari tempat duduk kami sehingga membuat beberapa mahasiswa sangat antusias untuk memotret dan menyentuh tangan sang President, tak terkecuali dua tiga orang mahasiswa UMPAR.

Kupikir, pada waktu itu dengan seketika penegasan menjadi oposisi dan resistant kapada rezim SBY dengan seketika runtuh melihat Tokoh-tokoh mahasiswa dari Sabang sampai Merauke menyambut dan bersorak untuk sang jendral. Ditambah teriakan-teriakan histeris dari mahasiswa UNCEN ketika mendapat lambaian tangan Pak Be ye. Sungguh beliau masih memiliki rakyat yang masih mencintainya. Terus bagaimana dengan pernyataan bahwa “Kepemimpinan SBY gagal dalam memimpin Indonesia menjadi Lebih baik?”. Ternyata sebuah Forum Mahasiswa Nasional yang dihadiri ribuan orang bergemuruh menyambut kehadirannya.

Ada beberapa Grand Point dalam catatan ini yaitu :

  1. Apa motivasi Pak Presiden untuk jauh-jauh terbang ke ujung negara untuk membuka acara mahasiswa yang dikenal selalu mengkritisi Pemeritahan ?
  2. Mengapa Lagu “Kuyakin sampai disana” dinyanyikan berulang-ulang dalam Forum Mahasiswa Nasional Auditorium UNCEN yang ternyata lagu tersebut ciptaan SBY?

Mengapa bukan “Totalitas Perjuangan” atau “Darah Juang”?

  1. Ketua Panitia melaporkan bahwa Presiden adalah Sponsor pertama kegiatan BEM NUSANTARA, apakah betul Presiden mendukung Gerakan Mahasiswa ?
  2. Mengapa Presiden tak sedetikpun memberikan waktu kepada mahasiswa untuk berdialog ? Bukankah moment Seperti itu jarang terjadi ?
  3. Pada salah satu seminar, Salah satu Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II membagikan sebuah buku kepemimpinan kepada seluruh peserta secara gratis. Ternyata Buku itu menyiratkan pujian dan dukungan terhadap kepemimpinan SBY. Apakah betul President-President mahasiswa Se-Indonesia perlu disuplay Buku yang membahas tentang teori Kepemimpinan ?
  4. Harga seporsi makananan peserta yaitu Rp 25.000,00 selama lima hari. Apakah itu bukan merupakan pemborosan bagi kelompok Mahasiswa ?
  5. Ratusan Cendramata bergambar cenderawasih yang dinilai seharga ratusan ribu rupiah dibagikan kepada peserta, Bukankah itu Terlalu mewah Untuk kelompok Mahasiswa ?
  6. Mengapa beberapa BEM dari kampus besar dan terkenal tidak menghadiri kegiatan tersebut ? Apakah betul mereka tidak mendapat Undangan atau karena Politis ?
  7. 9. Bagaimana tindak Lanjut dari kegiatan BEM NUSANTARA?

Sebagian Mahasiswa mungkin tidak tahu, Tapi yang saya tahu hampir semua media memberitakan bahwa Keberterimaan Mahasiswa terhadap Susilo Bambang Yudiono dalam BEM NUSANTARA merupakan bentuk kemitraan antara Pemerintah dan Mahasiswa. Sebuah analisa hemat seperti ini. Citra SBY akan terselamatkan karena pemandangan oleh media kepada masyarakat Indonesia beliau bisa kooperatif bersaman eksponen yang paling gemar mengkritisinya.

Taukah kita bahwa Kordinator Oposisi Nasional tak mampu berkata apa-apa ketika Juru bicara Partai Demokrat bertanya “Kelompok Mahasiswa mana yang menginginkan SBY untuk turun jabatan dan Berapa Jumlahnya?”. Sebuah Counter Movement yang sangat luar biasa dari Birokrat. Ketika Tokoh-tokoh mahasiswa dari sabang sampai Merauke dikumpulkan jauh dari daerah masing-masing, tentunya mereka akan melupakan isu-isu yang perlu untuk dikritisi. Senayan yang merupakan pusat pemerintahan akan sepi dari barisan mahasiswa yang memadati jalan-jalan untuk Berdemonstrasi. Bukankah belakangan kita melakukan Evaluasi kinerja 100 hari SBY ? apa yang selanjutnya mahasiswa akan lakukan ?.

Gerakan Intelektual dijinakkan dengan Gerakan Intelektual Pula, sebuah metode klasik warisan Orde Lama resim Soeharto Sebenarnya. Cuma mahasiswa hari ini yang terlalu bodoh untuk melawannya atau terlalu cerdas dalam menyambut angin segar dari Penguasa. Pada akhirnya mahasiswa dijual, Rakyat dijual, Kasihan Kita !!!!

389390_312150298810785_1642091284_n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s