Revolusi Sosial dari Wacana ke Wacana

Posted on

Ditulis oleh dhant

revolution1Sri baginda, itu bukan pemberontakan, itu revolusi!
(Hertog de la Rochefoucauld Liancourt)

Dua hal untuk membuat revolusi; massa yang tidak puas
dan suatu elit yang berkepala batu

(Chalmers Johnson)
Sungguh mati, selama kamu, rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kamu pasti akan selalu diinjak dan disebut sebagai seperempat manusia
(Marco Kartodikromo)

Jika kita merunut sejumlah teori yang membahas mengenai revolusi , paling tidak ada tiga pendekatan yang menonjol, yakni, teori agregat psikologis yang berupaya menjelaskan revolusi, melalui konsep motivasi psikologis rakyat untuk melibatkan diri ke dalam kekerasan politik atau untuk bergabung dalam gerakan oposisi, kedua adalah teori konsensus sistem atau nilai yang berupaya menjelaskan revolusi sebagai respon kekerasan dari gerakan ideologis terhadap ketimpangan yang hebat dalam sistem sosial dan kemudian yang ketiga, teori konflik politik, yang menyatakan bahwa konflik yang terjadi antara pemerintah dengan berbagai kelompok yang terorganisir yang memperebutkan kekuasaan haruslah menjadi pusat perhatian dalam setiap upaya menjelaskan kekerasan kolektif dan revolusi . Dalam konteks teori agregat psikologis, ada banyak ilmuwan yang memberikan sumbangan bermakna, khususnya menyangkut mengenai apa yang memotivasi sekelompok orang untuk melibatkan diri ke dalam kekerasan.

Diantaranya adalah Ted Gurr yang menyatakan, kalau kekerasan politik terjadi ketika banyak anggota masyarakat menjadi marah, khususnya jika kondisi praktis dan kondisi budaya yang ada merangsang terjadinya agregasi terhadap sasaran-sasaran politik. Johnson (1966) mengatakan hal serupa, disekuilibirium yang besar dan lama diantara sektor-sektor ekonomi, politik dan budaya dalam sebuah masyarakat-seperti pendidikan yang meningkat lebih cepat daripada output ekonomi, atau organisasi ekonomi berubah lebih cepat daripada organisasi politik-bisa mengakibatkan individu-individu menarik kesetiaan mereka terhadap rezim. Keadaan yang memicu ini dinamai dengan depriviasi relatif, dimana seorang atau sekelompok orang merasakan adanya kesenjangan yang lebar antara apa yang mereka miliki saat ini dengan apa yang mustinya mereka anggap dapat diperoleh dan dipelihara. Namun pertanyaanya kemudian dari mana asal-muasal agregasi? Pendekatan psikologis menawarkan berbagai macam sumber, yang pada hakekatnya, hendak memberikan seperangkat ciri mendasar mengapa seorang atau sekelompok orang melakukan agregasi.
Asumsi pertama karena sumber genetik dimana agregasi sesungguhnya bersifat instink yang didorong oleh perasaan frustasi. Diantara pendukung teori ini adalah Freud serta Lorenz, serta sebagian yang lain ada dalam pendapat Hobbes, yang menyatakan adanya kapabilitas manusia untuk marah, tak terkendali dan melakukan kekerasan berdarah. Tetapi pendekatan ini ditolak oleh mereka yang percaya, kalau agregasi diperoleh karena proses belajar dan digunakan secara strategis untuk tujuan-tujuan tertentu. Asumsi ini hendak menyatakan kalau kekerasan merupakan suatu respons yang dipelajari, dipilih secara rasional namun tidak diterapkan dengan cara yang senang hati. Sehingga, Timasheff pendukung pendekatan ini, percaya kalau revolusi adalah peristiwa residual (sisa) dimana hal ini merupakan usaha bijak bila cara lain mengatasi ketegangan telah gagal.
Asumsi yang ketiga menyatakan kalau agregasi terjadi sebagai respons terhadap frustasi. Frustasi merupakan gangguan dengan prilaku yang diarahkan oleh tujuan sedang agresi adalah perilaku seseorang yang dirancang untuk melukai, secara fisik atau lainnya, mereka yang melakukan agresi terhadap dirinnya. Dalam kalimat Dollard dikemukakan dalil ‘bahwa terjadinya perilaku agresif selalu mensyaratkan keberadaan frustasi dan, sebaliknya, bahwa keberadaan frustasi selalu menimbulkan beberapa bentuk agresi’. Namun demikian pendekatan psikologis ini dipertanyatakan ulang oleh Charles Tilly, yang berargumen, bagaimanapun juga ketidak-puasan atau frustasi rakyat tidak secara otomatis membuatnya melakukan kekerasan atau aksi politik, kecuali jika mereka menjadi bagian dari satu kelompok yang terorganisir yang mempunyai beberapa sumber daya. Charles Tilly memang menyakini kalau kekerasan kolektif itu lebih cenderung muncul secara langsung dari pusat proses-proses politik dalam suatu masyarakat, ketimbang mencerminkan ketegangan dan ketidak-puasan masyarakat. Sehingga menurut Charles Tilly, insiden kekerasan kolektif sesungguhnya hanya merupakan akibat dari proses normal dari persaingan kelompok untuk memperebutkan kekuasaan dan tujuan tertentu.
Menurut Charles Tilly, revolusi adalah kasus khusus dari aksi kolektif dimana kelompok-kelompok yang bersaing, berjuang, untuk mendapatkan kedaulatan politik tertinggi atas masyarakat, dan kasus dimana kelompok-kelompok penentang berhasil, sekurang-kurangnya dalam beberapa hal tertentu, menggantikan para pemegang kekuasaan yang ada . Dalam bahasa Rod Aya, Revolusi adalah fenomena ‘pergeseran perimbangan kekuatan dan pertarungan di antara para kontestan untuk merebut hegemoni dan mengendalikan negara’ . Sekurang-kurangnya ada sejumlah perkembangan yang dapat diidentifikasi munculnya revolusi, menurut Chares Tilly, pertama kecenderungan jangka panjang masyarakat untuk mengalihkan sumber daya dari beberapa kelompok dalam masyarakat kepada kelompok lainnya (khususnya jika kelompok pemegang kekuasaan semula disingkirkan dari masyarakat politik) kedua, adanya peristiwa perantara, seperti berkembang-biaknya ideologi revolusi atau meningkatnya ketidak-puasaan masyarakat.
Ideologi revolusi ini bisa dikatakan sebagai suatu sistem nilai yang menyimpang dari sistem nilai yang dominan dan mulai memiliki makna emosional yang kuat bagi seseorang atau sekelompok orang. Peran utama ideologi dalam suatu revolusi adalah mempersatukan berbagai penderitaan dan kepentingan di bawah seperangkat simbol oposisi yang sederhana dan memikat. Untuk tujuan revolusi, suatu ideologi yang mencirikan tarik menarik antara kekuatan baik dan jahat, melihat medan politik sebagai medan pertarungan antara kebajikan dan kemunkaran, sangat berlaku bagai landasan ideologi revolusioner.
Dengan meningkatnya kepercayaan pada sistem ideologi alternatif itulah maka kondisi pra revolusioner terbangun. Situasi pra revolusioner, dalam artian psikologis, didiskripsikan sebagai adanya konflik nilai yang makin terbuka, dan pihak-pihak yang mengerumuni seperangkat nilai yang saling berlawanan telah membangun satu atau lebih pusat kekuatan untuk menentang hierarki resmi. Jika kedua situasi itu bertemu maka sukseslah sebuah revolusi, yang oleh Charles Tilly, dinyatakan bahwa keberhasilan revolusi tergantung pada “pembentukan koalisi antara anggota masyarakat politik dengan kelompok-kelompok penentang yang mengajukan klaim-klaim alternatif yang eksklusif untuk mengusai pemerintahan” Dalam pandangan Charles Tilly, revolusi mendapat perhatian penting, mengingat (1) sifat partisipasi dalam gerakan revolusioner (2) kondisi sosial yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya revolusi dalam masyarakat . Karenanya, untuk mendapatkan suatu penjelasan yang memadai mengenai revolusi sosial, seseorang harus terlebih dulu menemukan problematik pertama, munculnya (bukan diciptakannya) situasi revolusioner.
Oleh Harry Eckstein situasi revolusioner yang menjadi syarat-syarat khusus timbulnya suatu revolusi sangatlah bervariasi. Dari syarat-syarat kejiwaan (sosialisme politik yang timpang, mitos-mitos sosial yang saling bertubrukan, suatu filsafat sosial yang telah aus, pengasingan kaum intelektual) kemudian syarat-syarat ekonomi (bertambahnya kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang pesat, ketidak-seimbangan antara produksi dan distribusi, pertumbuhan jangka panjang ditambah kemunduran jangka pendek) juga syarat-syarat sosial (sesalan karena sirkulasi elit yang terbatas, kekacauan sebagai akibat pengerahan elit yang terlalu luas, anomi sebagai akibat mobilitas sosial yang terlalu kuat, konflik disebabkan oleh bangkitnya kelas sosial yang baru) hingga syarat-syarat politik (pemerintahan yang buruk, pemerintahan yang terpecah-pecah, pemerintahan yang lemah, pemerintahan yang tiranis) Jika disebut berbagai contoh dan menelaah sejumlah peristiwa, akan kentara bagaimana revolusi di berbagai negara dibangkitkan oleh berbagai sebab. Revolusi Rusia (tahun 1905 maupun tahun 1917) pecah karena kesengsaraan yang ekstrem yang diterima oleh massa luas kaum tani dan penduduk kota. Hal yang serupa juga terjadi pada revolusi komunis di Tiongkok.
Tesis yang berkaitan dengan hal ini, revolusi bangkit karena penindasan ekstrem yang terjadi, seperti yang terjadi pada Kuba di bawah Batista, Tiongkok di bawah Chiang Kai-shek dan Rusia di bawah Nicholas II yang merupakan amsal dari penguasa tiranis yang meniadakan semua lembaga-lembaga demokratis. Apa bentuk-bentuk penindasan yang dilakukan oleh penguasa-penguasa diatas? Satu diantara yang terpenting adalah penindasan dalam bidang ekonomi. Keadaan yang kadang bukan disebabkan oleh bangkrutnya ekonomi melainkan, apa yang diatas diistilahkan sebagai depriviasi . James C Davies, menyatakan kalau revolusi tidak terjadi dalam keadaan kebutuhan ekstrem, melainkan lebih banyak dalam situasi tatkala suatu periode perbaikan dan harapan-harapan meningkat disusul oleh suatu kemunduran jangka pendek, yang dalam prosesnya membawa frustasi-frustasi yang gawat. Dalam bahasa Lawrence Stone dikatakan, revolusi berhasil bukan pekerjaan penderita-penderita kekurangan, juga bukan pihak-pihak yang dalam keadaan sejahtera, tetapi dari pihak-pihak yang keadaanya yang sebenarnya tidak membaik secepat yang mereka harapkan.
Kalau begitu, kelas sosial seperti apa yang ambil peran aktif dalam meletupkan revolusi? Brinton berdasarkan studinya mengenai empat revolusi besar menegaskan, bahwa “revolusi-revolusi ini tidaklah direncanakan oleh orang-orang yang sepenuhnya terhempas dalam kekurangan, oleh papa-miskin yang kelaparan” Hal yang sama diungkap oleh Davies “ jauh daripada membuat orang-orang menjadi revolusioner maka kemiskinan berkepanjangan paling-paling akan berakibat bahwa orang sepenuhnya terampas perhatiannya oleh diri-sendiri atau keluarga-sendiri, dan paling jeleknya akan menghasilkan kepasrahan dan keputus-asaan bisu” Dari dua pendapat diatas, massa miskin meskipun mendapatkan penindasan bukan berarti mereka akan menjadi pendukung aktif revolusi. Seperti yang dinyatakan oleh Barrington Moore, kemiskinan dan penghisapan itu sendiri tidaklah cukup untuk melahirkan suatu situasi yang revolusioner’ Situasi yang memburuk malahan bisa kemudian menampilkan kelompok kontra revolusioner daripada hadirnya kelompok revolusioner. Hal yang bisa didekatkan contohnya pada peristiwa yang menimpa Indonesia pada tahun 1965, dimana militer yang otoriter kemudian berkuasa. Kontra revolusioner bertujuan menghadang arus revolusi yang hendak menciptakan emansipasi dan justru mereka bangkit dalam situasi dimana para pemegang kekuasaan hendak bertahan dari serangan-serangan kekuatan baru yang sedang bangkit.
Kontra revolusi Indonesia pada tahun 1965 merupakan contoh yang terang bagaimana kemunculannya merupakan reaksi atas serangan terhadap anti-borjuasi. Hal yang sama diulang kembali pada Mei 1998 dimana kejatuhan Soeharto makin mengangkat kembali peranan kalangan borjuasi. Meskipun memang tak dapat dipungkiri bahwa massa kaum miskin akan menjadi pasukan utama ketika ledakan revolusi terjadi. Makanya penting sekali saat ini untuk membedakan secara tegas mana yang tergolong revolusi borjuis dan mana yang merupakan bagian dari revolusi petani. Sebab kedua revolusi ini bukan saja memiliki gejala sosial yang berbeda melainkan juga dipimpin sekaligus digerakkan oleh kelompok sosial yang berbeda pula. Gejala sosial revolusi burjuis dapat dicirikan bahwa situasi pra-revolusioner pada umumnya berupa peningkatan mobilitas sosial vertikal, dimana muncul kelompok elit-dalam istilah Chalmers Johnson- ‘yang berkepala batu’ yang menutup jalan bagi emansipasi kelas-kelas burjuis yang lain.
Sebaliknya revolusi petani, dimungkinkan muncul karena meningkatnya mobilitas horisontal yang diimbangi dengan munculnya keadaan darurat serta hancurnya secara berangsur-angsur lembaga-lembaga kemasyarakatan. Theda Scokpol melihat bahwa revolusi justru terjadi ketika berbagai kesulitan-perang dan krisis keuangan negara-berhasil diatasi namun memiliki institusi yang rentan terhadap revolusi. Skocpol mengidentifikasi tiga ciri kelembagaan yang menyebabkan kerentanan tersebut, yakni (1) lembaga militer negara sangat inferior terhadap militer dari negara-negara yang menjadi pesaingnya (2) Elit yang otonom mampu menentang atau menghadang implementasi kebijaksanaan yang dijalankan oleh pemerintah pusat (3) Kaum petani memiliki organisasi pedesaan yang otonom dan sebagai tambahan (4) Kosentrasi yang besar dari para pekerja kasar dan buruh di seputar pusat-pusat politik yang tidak terjaga dengan baik.
Tentu sosok yang tidak dapat diabaikan ketika berbicara mengenai Revolusi adalah Karl Marx. Marx memang menunjukkan esensi dalam revolusi terletak pada perubahan pola produksi umat manusia, yang pada gilirannya membawa perubahan pada pola tindak, pola pikir dan tatanan masyarakat secara keseluruhan. Dalam analisis Marx memang persoalan ekonomi tetap menjadi kunci utama, sehingga dalam manifesto komunis, Marx secara piawai menguraikan sejumlah tahapan revolusi. Tahapan itu diantaranya (1) Perlawanan individu dari kaum buruh yang sudah tidak tahan ditindas oleh majikannya (2) Pemogokan yang dilakukan di pabrik oleh mayoritas pekerja. Pada tahapan ini perlawanan meluap tapi buruh masih bertindak secara destruktif (3) Kaum buruh merasa penting untuk membangun sebuah gerakan dan perlunnya sebuah serikat pekerja dan ini dinamakan dengan tahapan ekonomisme (4) Kemajuan tekhnologi komunikasi adalah jembatan yang akan menghubungkan serikat-serikat pekerja dan menempanya menjadi satu partai proletariat (5) setelah itu kaum Proletariat sebagai kelas penguasa baru harus mengambil alih secara bertahap seluruh kapital dari tangan borjuasi, memusatkan semua alat produksi di tangan negara, yaitu di tangan proletariat sebagai kelas penguasa dan untuk meningkatkan produktivitas total selekas mungkin.
Disini kata kunci untuk melakukan revolusi adalah peralihan kekuasaan, sebab bagi Marx, hanya setelah kekuasaan ada di tangan kelas yang berbeda, pola produksi masyarakat akan dapat diubah sesuai dengan pola produksi yang memberikan keuntungan bagi kelas yang berkuasa tersebut. Dalam rumusan Marx, langkah pertama dalam revolusi oleh kelas pekerja adalah menaikkan kaum proletariat ke tampuk kekuasaan untuk memenangkan pertempuran demi demokrasi. Dalam hal ini diperlukan alat organisasi, dimana kaum buruh harus bisa mengorganisir dalam partai yang digerakkan oleh diri mereka sendiri . Tulang punggung revolusi adalah organisasi buruh yang kuat merupakan karakteristik pemikiran kaum kiri. Rosa Luxemburg bahkan secara taktis memberikan diskripsi mengenai bagaimana kalangan proletariat dalam merebut kekuasaan tidak ada cara lain, kecuali dengan ‘cara prematur’. Sebab serangan-serangan ‘prematur’ akan menciptakan syarat-syarat politik bagi sebuah kemenangan akhir. Gagasan yang tampaknya telah memberikan perubahan yang tidak kecil nantinya.
Analisis yang lebih praksis mengenai revolusi dapat kita tinjau dari pendapat mereka yang menjadi ‘pelaku’ revolusi. Diantara yang populer adalah Che Guevara yang menjadi aktor dalam Revolusi Kuba. Menurut Che, sebuah revolusi akan dimungkinkan menuai keberhasilan, jika memenuhi sejumlah prasyarat. Yang pertama-tama adalah menggumpalnya kekuatan tentara rakyat yang akan melawan tentara profesional. Eksistensi tentara rakyat itulah yang dapat mendorong meledaknya pusat-pusat pemberontakan. Dalam kasus Amerika Latin, arena perjuangan bersenjata atau pusat pemberontakan lebih tepat didasarkan pada kawasan-kawasan pedesaan. Pusat Pemberontakan akan muncul jikalau kebencian rakyat berkombinasi dengan provokasi aktif dari para penguasa. Dalam situasi inilah strategi perang gerilya kemudian ditempuh sebagai kebijakan. Hal ini yang juga dikerjakan oleh Mao yang memobilisasi massa pedesaan untuk melakukan pengepungan dan situasi serupa untuk kasus Vietnam di bawah pemimpin Ho Chi Minch. Kontak dan komunikasi dengan massa petani, dikatakan oleh Che, akan membuat para pejuang revolusi dapat memahami ketidak-adilan secara lebih material.
Sedangkan Lenin pemuka revolusi Rusia-dalam artikelnya yang populer what is to be done- menilai bahwa prasyarat meledaknya revolusi adalah organisasi yang kuat yang teruji dalam perjuangan politik di segala situasi dan waktu. Membangun organisasi revolusioner adalah mandat utama dan untuk menuju kesana, tidak ada jalan lain, kecuali dengan menerbitkan koran. Tugas koran revolusioner bukan saja melakukan propaganda dan agitasi kolektif akan tetapi juga harus menjadi organisator kolektif. Bahkan dengan bantuan koran, sebuah organisasi yang permanen akan berkembang secara alamiah. Api semangat revolusioner akan makin menyala, justru ketika tidak adanya kepastian hukum, tidak mungkin diperbaikinya watak rezim dan tidak adanya harapan maupun kemungkinan yang lebih baik di masa depan. Dalam pendapat Lenin, Revolusi adalah pesta rakyat tertindas, rakyat yang berabad-abad dihisap tak dapat kekuasaan apapun, mencapai kebebasannya dalam saat revolusi. Dalam kesimpulannya, Lenin menyatakan, bahwa revolusi adalah keruntuhan yang hebat dari bangunan politik atas politik yang lama, pertentangan diantara bangunan atas ini dengan hubungan-hubungan produksi yang baru menyebabkan kerobohannya pada saat tertentu.
Pendapat lain dikemukakan oleh Alexander Berkman , seorang anarkhis yang menjadi musuh besar kaum kapitalis maupun kalangan komunis Soviet. Sebagai seorang penganut anarkhisme, Alexander membedakan antara revolusi politik dan revolusi sosial. Revolusi politik adalah penggantian sistem pemerintahan yang bisa dilakukan jika rakyat terorganisir di seluruh negeri kemudian menumbangkan kekuasaan pemerintahan pusat. Sedangkan revolusi sosial-yang merupakan revolusi sesungguhnya-adalah penghapusan sistem perbudakan upah yang akan menghapuskan kekuasaan dari satu kelas yang menindas kelas yang lain. Sebuah revolusi yang akan merubah keseluruhan sifat masyarakat. Revolusi karenanya merupakan pemberontakan yang sadar akan tujuannya. Revolusi bersifat sosial ketika ia berjuang untuk sebuah perubahan mendasar. Karena struktur sosial itu mendasarkan pada ide, maka ide-ide sosial itu harus berubah terlebih dulu sebelum sebuah struktur sosial yang baru dapat didirikan. Karenanya revolusi sosial adalah sebuah hasil dari perkembangan sosial di mana sejumlah orang mengikuti sejumlah ide-ide baru dan memutuskan untuk menerapkannya dalam praktek. Karena itu menurut Alexander Berkman, evolusi dan revolusi bukanlah dua hal yang terpisah dan berbeda. Revolusi hanya titik mendidih dari evolusi. Dalam analoginya, karena revolusi adalah evolusi di titik mendidihnya, maka anda tidak dapat ‘membuat’ sebuah revolusi yang nyata dan hanya bisa mempercepat didihan seceret teh. Adalah api di bawahnya yang membuat teh tersebut mendidih; seberapa cepat teh itu mendidih tergantung dari seberapa kuat apinya.
Hal yang sama digariskan oleh Mao Tze Tung yang merumuskan ‘Revolusi demokrasi baru ialah revolusi massa rakyat yang antiimperialis dan anti feodal yang dipimpin oleh ploletariat’ Massa rakyat yang dimaksud disini adalah kaum tani. Revolusi ini berdasarkan persekutuan buruh dan tani dan meliputi semua orang yang menentang imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokratis. Mao Tse Tung yang terkenal dengan konsepnya desa mengepung kota, menggunakan perang gerilya sebagai strategi andalan, baik dengan model ‘memecah dalam bentuk sel’, ‘membagi segenap kekuatan untuk menggerakkan massa’ sedang dalam situasi lain ‘memusatkan kekuatan untuk menyerang musuh’. Sesudah revolusi mencapai kemenangan, Mao mengemukakan perlunya untuk membentuk tentara yang seluruhnya modern untuk membela tanah air serta pentingnya pembentukan front persatuan perjuangan untuk mempertahankan revolusi . Pendapat yang nampaknya sejajar kalau kita memberi amatan pada sejumlah kejadian revolusi yang ada di beberapa negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s